Kisaran media Harian Indonesian com 11/07/2026.
Pemandangan tak biasa kembali menghiasi pelataran dan bahu jalan di sekitar SPBU 14.213.233 air baru kisaran . Setiap harinya, puluhan hingga ratusan kendaraan, mulai dari truk logistik hingga angkutan umum, terpaksa mengular panjang demi mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang kian langka.
Bagi para sopir, antrean yang memakan waktu berjam-jam ini bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan sebuah perjuangan hidup mati demi membawa pulang rupiah untuk keluarga di rumah.
Bermalam di Jalan dan Kehilangan Pendapatan
Kelangkaan solar yang terjadi belakangan ini memukul telak mata pencaharian para pengemudi ujar salah seorang supir truk bermuatan cangkang Handriyansyah .
Waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk mengantar barang atau mencari penumpang, kini habis terbuang hanya untuk menunggu giliran mengisi tangki.
Handeiansyah ,seorang sopir truk angkutan cangkang lintas provinsi, mengaku sering kali harus menginap di dalam truknya demi memastikan dirinya tidak kehabisan stok solar saat giliran tiba.
”Kalau tidak ikut antre dari subuh, bahkan kadang dari malam sebelumnya, kita tidak kebagian. Solar habis, kita tidak bisa jalan. Kalau tidak jalan, anak istri di rumah mau makan apa?” ujar Handriyansyah dengan raut wajah lelah saat ditemui di lokasi, Sabtu (11/7).
Hal senada juga dirasakan oleh para sopir angkutan kota (angkot). Pendapatan harian mereka merosot tajam hingga 50 persen akibat waktu yang terbuang sia-sia di jalur antrean.
Dampak Domino Kelangkaan BBM
Antrean panjang di SPBU 14.213.233 tidak hanya merugikan para sopir secara personal, tetapi juga mulai memicu dampak domino yang lebih luas:
Keterlambatan Logistik: Pasokan barang pokok ke sejumlah daerah menjadi terhambat.
Kemacetan Lalu Lintas: Ekor antrean truk yang memanjang hingga ke jalan raya kerap memicu kemacetan parah pada jam sibuk.
Pembengkakan Biaya Operasional: Sopir harus mengeluarkan uang makan ekstra selama menunggu antrean.
Jeritan Hati Para Sopir
Masyarakat, khususnya para pekerja jalanan, sangat berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan untuk mengevaluasi kuota distribusi solar di SPBU ini.
Mereka tidak meminta banyak; mereka hanya butuh kepastian agar bahan bakar cair berwarna murni itu selalu tersedia.
Bagi mereka, setiap tetes solar adalah napas bagi roda ekonomi keluarga yang harus terus berputar demi sesuap nasi.
Hambali
