harian Indonesia.com Tapteng
Tapteng – Penderitaan masyarakat di Kabupaten Tapanuli Tengah pasca bencana hingga kini belum juga berakhir. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, warga kini harus dipaksa membeli air bersih dengan harga yang dinilai mencekik, mulai dari Rp5 ribu di Kelurahan kalangan Air Bersih mencapai hingga Rp10 ribu per jerigen.”Selasa, (12/05/2026).
Kondisi ini memicu keluhan dari berbagai kalangan masyarakat, terutama para pedagang warung nasi dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau terus begini, kami mau jualan pakai apa? Air mahal, pembeli sepi, sementara kebutuhan terus berjalan,” keluh Boru Lubis salah seorang pedagang warung nasi di kelurahan Pandan dengan nada kecewa.
Warga menilai pemerintah daerah lamban dalam menangani persoalan kebutuhan dasar masyarakat pasca bencana. Hingga kini, distribusi air bersih disebut belum merata, bahkan di sejumlah wilayah masyarakat terpaksa membeli air demi bisa memasak, mandi, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ironisnya, di saat rakyat kesulitan mendapatkan air bersih, pemerintah dinilai lebih sibuk dengan agenda seremonial dan pencitraan politik.
Agus Tanjung salah satu warga kelurahan Lubuk Tukko saat di wawancarai juga mempertanyakan tentang kehadiran pemerintah di tengah penderitaan warga yang hingga kini masih berjuang bertahan hidup.
“Jangan hanya datang saat foto-foto dan rapat. Rakyat butuh solusi nyata, bukan janji,” ujar Agus Tanjung.
Situasi ini membuat masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah segera mengambil langkah konkret untuk menjamin kebutuhan air bersih warga. Sebab air merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya tidak menjadi barang mewah di tengah kondisi pasca bencana. (M.T)
