AKBP I Made Redi Hartana Kalau Rakyat Gelisah, Polisi Tak Boleh Tidur
KOTAWAY, BUAY PEMACA
Media harian indonesia
Kamis, 4 Juni 2026
Jarum jam menunjuk 22.11 WIB. Kabut tipis menggantung di atas Desa Kotaway, Kecamatan Buay Pemaca. Di bawah langit OKU Selatan, sorot lampu menembus gelap malam. Di atas tikar, Kapolres OKU Selatan AKBP I Made Redi Hartana, S.H., S.I.K., M.I.K. duduk melingkar. Bukan berjarak. Tapi membaur bersama warga.
Bukan apel. Bukan razia. Ini ronda. Ini sambang. AKBP I Made Redi Hartana turun langsung ke lapangan. Mendampingi, Kabag Ops dan Kasat Binmas Polres OKU Selatan. Dari unsur pemerintah, hadir Camat Buay Pemaca Sainal Sagiman, S.E. Tuan rumah, Kades Kotaway Ferry Armansyah, menyambut dengan tangan terbuka.
Puluhan warga Kotaway tumpah ruah. Tua muda, laki perempuan, semua ikut melingkar. Jempol teracung ke udara. Senyum tak lepas dari wajah. Di atas meja kecil beralas taplak merah, toples kue, air mineral, dan tisu tersaji apa adanya. Sederhana. Tapi di situlah hangatnya tercipta.
“Ini bukti Polri Presisi. Kami datang bukan untuk memerintah. Kami datang untuk duduk sama rendah, dengar langsung keluh kesah masyarakat,” ucap AKBP I Made Redi Hartana. Kalimat itu disambut anggukan warga.
Malam itu, definisi sinergi tiga pilar dipertontonkan nyata. Polri diwakili Kapolres, Kabag Ops, dan Kasat Binmas. Pemerintah kecamatan diwakili Camat Sainal Sagiman, S.E. Pemerintah desa diwakili Kades Ferry Armansyah.
“Kalau polisi, camat, dan kades kompak, masyarakat pasti tenang. Inilah fondasi yang kami bangun di Buay Pemaca,” tegas Camat Sainal Sagiman.
Kades Ferry Armansyah tak kuasa menyembunyikan rasa haru. “Ini sejarah bagi kami. Pak Kapolres bela-belain datang sampai larut malam. Warga Kotaway merasa benar-benar dijaga dan diperhatikan. Kami bangga.”
Dialog mengalir tanpa naskah. Soal siskamling yang perlu dihidupkan lagi. Soal lampu jalan yang gelap di beberapa titik. Soal kenakalan remaja yang mulai meresahkan. Hingga soal batas kebun yang rawan memicu konflik. Semua dibahas tuntas.
AKBP I Made Redi Hartana mencatat satu per satu. Kasat Binmas langsung memberi solusi praktis di tempat. Kabag Ops memetakan ulang pola patroli malam di wilayah Buay Pemaca.
“Keamanan Bumi Serasan Seandanan itu dimulai dari desa. Dimulai dari obrolan malam seperti ini. Prinsip kami jelas. Kalau rakyat gelisah, polisi tak boleh tidur,” tegas Kapolres.
Malam makin larut, antusiasme warga tak surut. Bagi masyarakat Kotaway, kehadiran pimpinan tertinggi Polres OKU Selatan adalah kehormatan. Bukti bahwa suara rakyat kecil sampai ke telinga pengambil kebijakan.
“Kehadiran Pak Kapolres yang selalu membaur jadi bukti nyata. Polri itu dekat dengan rakyat. Bukan cuma untuk Kotaway, tapi untuk seluruh warga OKU Selatan,” ucap seorang tokoh masyarakat.
Di Kotaway malam itu, persepsi berubah. Seragam coklat bukan lagi simbol yang menakutkan. Seragam itu hadir membawa rasa aman. Menenangkan.
Romy Batara 94
