OKU SELATAN
Media Harian indonesia
Muaradua, 16/06/2026 – Jembatan gantung yang jadi urat nadi” perekonomian Desa Kuripan Satu, Kecamatan Tiga Dihaji, kini tinggal nama. Kondisinya rusak parah, terbengkalai, tanpa perbaikan. Warga sudah banyak jadi korban.
Tapi keluhan ke desa, kecamatan, sampai Pemkab OKU Selatan seolah hilang ditelan angin.
Jembatan itu satu-satunya akses warga Kuripan Satu untuk ke sawah, ke pasar, ke sekolah, ke puskesmas. Setiap hari ratusan orang lalu lalang di atasnya: ibu-ibu bawa hasil kebun, anak sekolah, bapak-bapak bawa motor.
Sekarang Kayu lapuk. Tali sling berkarat. Lantainya bolong. Kalau hujan, jembatan goyang dan licin.
“Ini bukan jembatan biasa. Ini nadi hidup kami. Kalau jembatan mati, ekonomi kami juga mati,” ujar salah satu tokoh masyarakat dari Grup Haji Seangkonan.
Menurut warga, sudah banyak korban jatuh dari jembatan. Ada yang luka, ada yang motornya tercebur sungai. Anak sekolah pun takut nyebrang tiap pagi.
Ironisnya, laporan sudah berkali-kali disampaikan. Ke kepala desa, ke kecamatan, ke Pemkab OKU Selatan. Jawabannya nihil.
Sampai hari ini belum ada kejelasan kapan diperbaiki. Rasanya seperti tutup mata,” keluh tokoh masyarakat itu.
Warga Kuripan Satu nggak minta muluk-muluk. Mereka cuma minta jembatan diperbaiki. Karena tanpa jembatan, harga hasil tani anjlok, anak telat sekolah, orang sakit susah ke puskesmas.
“Kalau semua unsur pemerintah bisa turun, gotong royong, insyaAllah jembatan ini bisa selamat. Jangan tunggu ada korban meninggal baru bergerak,” tambahnya.
Hingga berita ini tayang, belum ada kepastian dari pihak terkait soal waktu dan anggaran perbaikan.
Romy 94
