Madia Harian Indonesia.com Pematang Siantar
Kota Pematangsiantar bersiap menjadi tuan rumah Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tingkat Sumatera Utara yang akan digelar pada 20–24 Juni 2026. PpAjang ini bukan sekadar kompetisi keislaman bagi anak-anak, melainkan wadah pembinaan karakter, penguatan nilai-nilai Al-Qur’an, serta sarana menumbuhkan semangat kebangsaan dalam keberagaman Indonesia.
Pelaksanaan FASI XIII Sumut menjadi perhatian tersendiri karena tidak hanya menghadirkan kegiatan religius, tetapi juga mengusung semangat inklusivitas dan kebersamaan. Kehadiran Liswati Wesly Silalahi sebagai Ketua Panitia menunjukkan bahwa pembinaan generasi Qur’ani merupakan tanggung jawab bersama dalam membangun karakter bangsa yang berakhlak dan beradab.
Dalam ajaran Islam, kerja sama dalam kebaikan merupakan prinsip yang sangat mendasar. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Maidah: 2).Ayat tersebut menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mendorong terciptanya hubungan sosial yang harmonis antarsesama manusia, tanpa memandang perbedaan suku, budaya, maupun agama.
Pesan serupa juga tertuang dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Keragaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kesempatan untuk membangun komunikasi, kolaborasi, dan persaudaraan. Kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh identitas sosialnya, melainkan oleh tingkat ketakwaannya.
Sejarah peradaban Islam pun mencatat banyak kontribusi penting yang lahir dari kolaborasi lintas iman. Salah satu contoh yang dikenal luas di Indonesia adalah Friedrich Silaban, arsitek beragama Kristen yang merancang Masjid Istiqlal di Jakarta, masjid terbesar di Asia Tenggara.
Dalam proses perancangannya, Silaban mempelajari tata ibadah Islam agar desain bangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan umat Muslim.
Keberadaan Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta hingga kini menjadi simbol kuat toleransi dan harmoni kehidupan beragama di Indonesia.
Pada masa keemasan Islam, komunitas Kristen Nestorian dan Suryani juga berperan besar dalam menerjemahkan karya-karya ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab melalui Baitul Hikmah di Baghdad. Dari proses tersebut lahir tradisi intelektual yang kemudian melahirkan pemikir-pemikir besar seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Kindi.
Di bidang kedokteran, banyak dokter istana pada era Kekhalifahan Abbasiyah berasal dari komunitas Kristen. Keahlian mereka turut menjadi fondasi berkembangnya ilmu medis dalam dunia Islam.
Sementara itu, tokoh seperti Yohanes dari Damaskus menunjukkan bagaimana dialog intelektual antara Islam dan Kristen telah berlangsung sejak masa awal perkembangan peradaban Timur Tengah.
Memasuki era modern, tokoh-tokoh Kristen Arab seperti Jurji Zaidan dan Butrus al-Bustani turut berkontribusi dalam gerakan kebangkitan intelektual Arab (Nahda) melalui pendidikan, literasi, dan pengembangan pers.
Rangkaian fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa peradaban Islam berkembang melalui keterbukaan, interaksi, serta kolaborasi yang konstruktif dengan berbagai kelompok masyarakat.
Dalam konteks kekinian, penyelenggaraan FASI XIII Sumut di Pematangsiantar Jumat, 05/06/2026 menjadi refleksi dari nilai-nilai tersebut. Kehadiran Liswati Wesly Silalahi sebagai Ketua Panitia tidak hanya mencerminkan peran sosial semata, tetapi juga menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pembinaan generasi muda yang berkarakter, berakhlak mulia, dan memiliki wawasan kebangsaan.
FASI tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga bagian dari pembangunan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045, yaitu generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan mampu hidup harmonis di tengah keberagaman.
Pada akhirnya, FASI XIII Sumut bukan sekadar festival. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara nilai-nilai Qur’ani, semangat kebangsaan, dan warisan panjang kolaborasi lintas iman dalam membangun peradaban.
Dari Pematangsiantar, pesan itu kembali ditegaskan: membangun generasi Qur’ani berarti sekaligus membangun bangsa yang damai, terbuka, toleran, dan beradab.(M.T)
