media Harian Indonesian com BUAY PEMACA, OKUSELATAN 28/06/2026
Bukit kopi Buay Pemaca pagi itu tidak hanya berkabut. Ia basah oleh keringat.
Di Dusun 9 Desa Sinar Baru, tidak ada suara mesin molen. Tidak ada bendera proyek. Yang ada hanya suara sekop menghantam batu, tawa warga, dan seorang perempuan berbaju kuning-hitam berdiri di tengah debu.
Dialah Ibu Tri Wahyuningsih, Kepala Desa Sinar Baru.
Lupakan seremonial. Lupakan karpet merah.
Hari itu, Ibu Kades menukar meja kerjanya dengan jalan tanah yang setiap hujan berubah jadi kubangan. Dengan topi putih dan keringat di pelipis, beliau ikut mengarahkan, menyemangati, dan berdiri paling lama di antara warga.
“Selama ini kita teriak minta jalan. Tapi kalau kita nunggu terus, anak-anak kita yang terpeleset duluan,” katanya pelan, namun tegas.
Dusun 9 ini pelosok. Napasnya adalah kopi. Musuhnya adalah jalan rusak.
Mereka tidak punya waktu menunggu APBD. Maka mereka memilih jalan lain. Jalan ninja. Swadaya Murni.
Uang dikumpulkan. Tenaga dikerahkan. Pikiran disatukan. Hasilnya, jalan yang dulu menelan ban motor, kini mulai bisa dilewati dengan kepala tegak.
Anggaran: Rp0 dari luar.
Kontraktor: Tidak ada.
Pemimpin: Hadir, berkeringat, dan tidak pergi setelah foto.
Hasil: Jalan layak pakai.
“Pemimpin itu harus jadi pelopor, bukan penonton di balik meja AC. Kalau Kades saja berani kotor, warga pasti ikut. Titik.”
Satu kalimat itu menggema di antara bukit. Ia lebih keras dari pidato di balai desa.
Dari Dusun 9, Ibu Tri meninggalkan pesan untuk seluruh Indonesia:
Pembangunan itu bukan soal berapa miliar yang cair. Tapi soal berapa keringat yang mau kau tumpahkan untuk rakyatmu.”
Hari itu, semen di tangan seorang ibu desa terbukti lebih bernilai dari aspal miliaran. Karena di dalamnya, ada hati
Romy Batara 94
