Harianindonesia.com – Transplantasi (cangkok) hati menjadi solusi bagi hati yang rusak sehingga gagal berfungsi. Namun dibandingkan donor mati, transplantasi disarankan menggunakan hati dari donor hidup.
“Transplantasi hati dari donor hidup lebih menguntungkan dibanding dari donor yang telah meninggal. Ada daftar tunggu kalau dari donor mati, sedangkan kalau donor hidup bisa lebih cepat dilakukan karena waktu pelaksanaan transplantasi bisa dikontrol dan organ hati yang akan digunakan juga bisa dioptimalkan, hasilnya juga sebanding,” papar ahli bedah hati, pankreas, dan empedu serta transplantasi dari Gleneagles Hospital Singapore, dr Tan Ek Khoon, dalam paparan tentang Transplantasi Hati dan kerja sama RS Medistra Jakarta dan IHH SG, Kamis (22/1/2026).
Namun demikian, kata dr Tan, tentu ada syarat bagi pendonor hati. Ada seleksi donor yang sehat dan berusia antara 18-75 tahun. Tak ada paksaan bagi donor dan persetujuan harus diinformasikan, serta kondisi hati pendonor cocok secara medis.
“Selain itu, proses donasi harus dilengkapi dengan fasilitas dan tim yang lengkap, karena keselamatan donor adalah yang terpenting,” tegas dr Tan.
Harapan Hidup Meningkat
Dr Tan menjelaskan, proses tranplantasi bisa dilakukan secara hepatektomi donor minimal invasif sepenuhnya. Apalagi saat ini teknologi semakin berkembang dengan teknologi bedah robotic.
“Hepatektomi donor minimal invasif sepenuhnya akan meminimalkan morbiditas (tingkat kesakitan) donor, sayatan yang lebih kecil, mengurangi penggunaan obat nyeri, memperpendek masa rawat di rumah sakit, mengurangi perdarahan,” ungkap dr Tan.
Menurut dr Tan, hasil transplantasi bagi pasien cukup bagus. Diantaranya, harapan hidup pasien selama 1 tahun 94%. Harapan keberhasilan cangkok selama 1 tahun juga tinggi, mencapai 92%, dan perkiraan kelangsungan hidup mencapai 20 tahun.
Perawatan setelah transplantasi, pasien diberikan obat imunosupresi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dijaga agar tidak terjadi penyakit penyerta (komorbiditas lainnya), infeksi, dan risiko kanker.
Masih Jadi Tantangan
Namun demikian, Konsultan Gastroentero-Hepatologi dari Medistra Hospital, dr C. Rinaldi A. Lesmana, PhD, Sp.PD, KGEH, FACP, FACG, FINASIM, mengatakan transplantasi hati masih menjadi tantangan di Indonesia. “Jumlah donor hidup dewasa masih terbatas, biaya tranplansti tinggi, dan biaya skrining bagi donor juga tinggi,” ujar dr Rinaldi.
dr Rinaldi memaparkan, transplantasi dibutuhkan karena prevalensi penyakit perlemakan hati (fatty liver diease/FLD) di Indonesia cukup tinggi. FLD ini, juga virus hepatitis B dan C, bisa memicu keganasan hati. “Sebanyak 90% dari keganasan hati berkembang menjadi hepatoseluler carcinoma (HCC), yaitu jenis kanker hati primer yang paling umum. HCC disebabkan virus hepatitis B, C , dan lain-lain seperti penyakit hati berlemak (fatty liver deases/FLD),” ungkap dr Rinaldi.
Dalam sebuah penelitian pada 2002 yang meneliti komunitas yang terdiri atas 808 orang di Indonesia, terungkap prevalensi penyakit hati berlemak bukan karena alcohol / NAFLD (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease) mencapai 30,6%.
Data RS Medistra pada 2025 juga mengungkap, dari 1054 pasien yang melakukan medical chec up (MCU), ada 51% yang menderita NAFLD, kondisi penumpukan lemak berlebih di hati yang tidak disebabkan oleh konsumsi alcohol.
“Ini menjadi penyebab HCC masih jadi masalah besar di Indonesia. Apalagi banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut,” keluh dr Rinaldi.(*)
