Tapanuli Tengah – Banjir kembali merendam permukiman warga di Kelurahan Bonan Lumban Lingkungan I, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Rabu (20/05/2026). Ironisnya, tanggul penahan banjir yang sebelumnya dibangun pemerintah kembali jebol diduga akibat hanya menggunakan material pasir yang tidak mampu menahan derasnya arus sungai.
Air bahkan dilaporkan sudah sejajar dengan rumah warga dan mengancam keselamatan masyarakat. Kondisi ini memicu kemarahan warga yang menilai Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah gagal menyelesaikan persoalan banjir yang terus berulang setiap tahun.
David Sinaga, salah seorang warga setempat, menilai penanganan banjir selama ini hanya bersifat sementara dan terkesan asal jadi. Menurutnya, proyek tanggul yang terus menggunakan pasir hanya menghabiskan anggaran tanpa memberikan perlindungan nyata kepada masyarakat.
“Kalau setiap banjir tanggul selalu jebol, untuk apa terus dibangun dengan cara yang sama? Rakyat butuh solusi permanen, bukan proyek tambal sulam yang akhirnya hancur lagi,” tegas David Sinaga.
Kekecewaan masyarakat semakin memuncak karena hingga kini belum terlihat pembangunan tanggul permanen yang kokoh pasca bencana sebelumnya. Warga menyebut slogan pembangunan dan “naik kelas” yang selama ini digaungkan pemerintah daerah justru bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan.
“Katanya Tapanuli Tengah mau naik kelas, tapi banjir saja tidak mampu diselesaikan. Tanggul dibuat dari pasir, sekali diterjang air langsung hancur. Ini bukan solusi, ini penderitaan yang terus diwariskan kepada rakyat,” ujar warga dengan nada kecewa.
Warga menilai pemerintah daerah lamban dan tidak serius menangani keselamatan masyarakat di wilayah rawan banjir. Mereka mendesak agar pemerintah segera membangun tanggul permanen berbahan beton agar bencana banjir tidak terus menjadi ancaman tahunan bagi masyarakat Kecamatan Tukka.
“Bupati jangan hanya pandai bicara di depan publik. Datang lihat penderitaan rakyat di Bonan Lumban. Rumah warga hampir tenggelam sementara pemerintah seolah tutup mata,” ucap warga lainnya.
Masyarakat menegaskan, apabila persoalan banjir ini terus diabaikan, maka kepercayaan rakyat terhadap kepemimpinan daerah akan semakin runtuh. Warga berharap pemerintah tidak lagi menghadirkan proyek tambal sulam, melainkan solusi nyata yang benar-benar mampu melindungi masyarakat dari ancaman banjir yang terus berulang. (M.T)
