LANGKAT Harian Indonesia com. 30/10/2026
Bahorok bukan sekadar nama sebuah kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Di balik nama tersebut tersimpan cerita panjang tentang perjalanan sejarah, percampuran budaya, jejak masyarakat Karo dan Melayu, serta lahirnya sebuah peradaban lokal yang patut diketahui oleh generasi penerus.
Namun, pernahkah kita bertanya, dari mana sebenarnya asal-usul nama Bahorok?
Berdasarkan catatan sejarah Kecamatan Bahorok yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Langkat, terdapat kisah yang menghubungkan nama Bohorok dengan istilah “Buah Huruk”, yang dalam penuturan sejarah setempat diartikan sebagai buah yang berada di atas bukit.
Kisah tersebut bermula dari perjalanan Sultan Husin bersama kerabatnya menyusuri kawasan hulu Sungai Wampu. Mereka kemudian singgah di sebuah lokasi pertemuan dua aliran sungai, yakni Sungai Wampu dan Sungai Bahorok. Kawasan tersebut dahulu dikenal dengan nama Kampung Tanjung.
Dalam kisah yang diwariskan secara turun-temurun, mereka menemukan sebuah pohon yang menghasilkan buah menyerupai buah seri. Karena tumbuh di atas bukit, buah itu disebut Buah Huruk dalam bahasa Karo.
Dari penuturan tersebut, penyebutan Buah Huruk kemudian berkembang menjadi Bohorok. Nama inilah yang selanjutnya dikenal sebagai identitas sebuah kawasan dan kerajaan kecil pada masa lampau.
JEJAK KERAJAAN KECIL DAN PERJALANAN SEJARAH
Sejarah Bahorok tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Kejeruan Bahorok. Wilayah ini pernah memiliki pemerintahan tradisional sendiri sebelum menjadi bagian dari struktur pemerintahan Kesultanan Langkat.
Bahkan, sejumlah kerajaan kecil seperti Bohorok, Selesai, Stabat, dan Bingai disebut dalam catatan sejarah sebagai bagian dari perjalanan terbentuknya Kerajaan Langkat.
Penelitian sejarah mengenai Kejeruan Bahorok juga mencatat sejumlah peninggalan bersejarah, di antaranya Masjid Raya Bahorok, makam Datuk Landak, makam Tan Husin, dan Jembatan Bahorok.
Peninggalan tersebut bukan sekadar bangunan atau lokasi bersejarah. Semuanya merupakan bagian dari jejak perjalanan masyarakat yang pernah membangun kehidupan, pemerintahan, dan kebudayaan di wilayah ini.
MENGAPA BOHOROK BERUBAH MENJADI BAHOROK?
Hal menarik lainnya adalah perubahan penulisan nama Bohorok menjadi Bahorok.
Dalam catatan BPS Kabupaten Langkat, perubahan tersebut terjadi pada tahun 1987, ketika Kecamatan Bohorok dipimpin Camat Mula Sembiring.
Perubahan itu disebut berkaitan dengan persoalan pemalsuan stempel dinas sehingga dilakukan penggantian stempel Kecamatan dan desa-desa di wilayah tersebut.
Menariknya, sejumlah instansi lain pada masa itu masih menggunakan penulisan Bohorok. Bahkan, beberapa dokumen tanah lama dari masa pemerintahan kejuruan juga masih mencantumkan nama Bohorok.
Fakta ini memperlihatkan bahwa perubahan nama bukan sekadar persoalan pengucapan, tetapi juga memiliki perjalanan administratif yang menarik untuk ditelusuri.
OPINI: JANGAN BIARKAN SEJARAH BAHOROK HILANG DITELAN ZAMAN
Sebagai salah satu wilayah bersejarah di Kabupaten Langkat, Bahorok seharusnya memiliki dokumentasi sejarah yang lebih lengkap, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, budayawan, serta kalangan akademisi perlu duduk bersama untuk menggali kembali sejarah asal-usul Bahorok.
Cerita rakyat harus dihargai sebagai warisan budaya. Namun, cerita tersebut juga perlu diteliti melalui dokumen lama, peninggalan sejarah, arsip kerajaan, serta kesaksian para tokoh yang memahami perjalanan masa lalu.
Jangan sampai generasi muda Bahorok hanya mengenal nama daerahnya, tetapi tidak mengetahui siapa leluhurnya, bagaimana sejarah pemerintahannya, dan bagaimana wilayah tersebut tumbuh menjadi bagian penting dari Kabupaten Langkat.
Sudah saatnya Bahorok memiliki buku sejarah lokal yang lengkap, museum atau ruang dokumentasi sejarah, serta penanda situs-situs bersejarah yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.
Redaksi HARIAN INDONESIA.COM
Penulis Hambali
