Tapteng . Jumat.04/September.2026
Kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka Jum’at (04/09/2026) di Kelurahan Hutanabolon Lingkungan 4 , Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah yang seharusnya menjadi ajang menunjukkan keberhasilan pemerintah daerah dalam menangani dampak bencana, justru membuka luka lama yang belum sembuh di tengah masyarakat.
Suara kekecewaan warga terdengar lantang. Di hadapan rombongan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan juga Gubernur Sumut yang hadir, warga korban banjir dan longsor kembali mempertanyakan janji Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu terkait bantuan hidup (jadup) yang hingga kini belum juga mereka terima secara utuh.
Teriakan warga itu bukan tanpa alasan. Hampir setahun pascabencana yang melanda Tapanuli Tengah, banyak korban masih berjuang memulihkan kehidupan mereka. Rumah rusak, lahan pertanian hilang, mata pencaharian terganggu, sementara bantuan yang dijanjikan Bupati Tapanuli Tengah dinilai berjalan lambat dan belum memberikan kepastian.
“Kapan jadup kami keluar?” teriak sejumlah warga yang merasa kesabarannya telah mencapai batas.
Sorotan publik pun tertuju kepada Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu. Di tengah derasnya tuntutan masyarakat, sikap Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu dinilai belum mampu menjawab kegelisahan para korban.
Janji percepatan pemulihan yang berulang kali disampaikan belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di lapangan.
Bagi warga hutanabolon, kecamatan tukka persoalan ini bukan sekadar soal bantuan uang. Jadup merupakan simbol kehadiran negara.Bagi korban bencana yang kehilangan banyak hal dalam hidupnya ketika bantuan itu tak kunjung terealisasi yang muncul bukan hanya kesulitan ekonomi, tetapi juga hilangnya kepercayaan terhadap Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.
Ironisnya, di saat korban bencana masih harus berjuang sendiri menghadapi dampak yang mereka alami sudah sembilan bulan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai prioritas kebijakan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dalam menangani kebutuhan mendesak masyarakat terdampak bencana.
Kekecewaan warga yang disampaikan secara langsung di hadapan Wakil Presiden menjadi sinyal kuat bahwa persoalan bencana di Tapanuli Tengah belum selesai. Suara rakyat yang selama ini mungkin hanya terdengar di posko-posko pengungsian dan pertemuan warga kini menggema di hadapan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
Momentum tersebut sekaligus menjadi ujian bagi kepemimpinan Bupati Tapanuli Tengah. Masyarakat tidak lagi menunggu penjelasan panjang ataupun janji baru. Yang mereka harapkan adalah tindakan nyata, kepastian bantuan, serta percepatan pemulihan bagi ribuan korban yang hingga hari ini masih berusaha bangkit dari keterpurukan.
Jika keluhan masyarakat terus berulang dan bantuan yang dijanjikan tetap berjalan lambat, maka kritik terhadap pemerintah daerah akan semakin sulit dibendung. Sebab bagi korban bencana, waktu menunggu bukan lagi hitungan hari atau bulan, melainkan perjuangan panjang untuk mempertahankan kehidupan di tengah ketidakpastian.
Kini, pertanyaan warga Hutanabolon ,Kecamatan Tukka masih menggantung di udara: “Kapan jadup kami keluar?” Sebuah pertanyaan sederhana yang hingga saat ini menunggu jawaban nyata dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.
jurnalis. MT
editor. Ibnu Agusmar
