Polres katingan. media Harian Indonesian com.05/juli/2026
Peristiwa tersebut bermula dari informasi masyarakat terkait dugaan aktivitas peredaran narkoba di wilayah Desa Tumbang Kalemei. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi kemudian menyiapkan tim untuk melakukan penindakan terhadap target yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran sabu.
Dalam operasi itu, sebanyak 12 personel diterjunkan ke lokasi pada malam hari. Sebagian petugas bertugas melakukan penindakan langsung, sementara personel lainnya berperan sebagai tim pendukung di sekitar lokasi penggerebekan.
Awalnya, operasi berjalan sesuai rencana. Polisi bahkan disebut berhasil mengamankan salah satu target yang menjadi sasaran dalam penggerebekan tersebut.
Namun, situasi berubah ketika petugas diduga mendapat perlawanan dari sejumlah orang di lokasi. Bentrokan pun tidak dapat dihindari hingga menyebabkan korban dari pihak kepolisian.
Dalam insiden tersebut, Aipda Yudhi Perdana Putra dinyatakan gugur saat operasi berlangsung. Sementara dua personel lainnya, yakni Bripda Nopandri Ramadhana dan Aiptu Sumariyanto, sempat dilaporkan hilang setelah kejadian.
Pencarian besar-besaran kemudian dilakukan oleh tim gabungan di sekitar lokasi kejadian hingga aliran Sungai Katingan. Pencarian melibatkan unsur kepolisian, Basarnas, dan pihak terkait lainnya.
Pada Sabtu, 4 Juli 2026, tim gabungan menemukan jenazah Bripda Nopandri Ramadhana di Sungai Katingan. Penemuan tersebut menjadi duka mendalam bagi keluarga dan institusi kepolisian.
Sehari kemudian, Aiptu Sumariyanto juga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazahnya ditemukan sekitar delapan kilometer dari lokasi kejadian di kawasan Daerah Aliran Sungai Katingan.
Dengan ditemukannya dua personel yang sempat hilang, jumlah anggota Polres Katingan yang gugur dalam operasi tersebut menjadi tiga orang. Ketiganya merupakan personel Satresnarkoba yang terlibat dalam upaya penindakan terhadap jaringan narkoba di wilayah tersebut.
Kepergian tiga anggota kepolisian itu menimbulkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi institusi Polri dan masyarakat yang mengikuti perkembangan kasus tersebut.
Hingga perkembangan terakhir, aparat masih melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap peristiwa yang menyebabkan gugurnya tiga anggota kepolisian tersebut. Tim gabungan terus mengumpulkan keterangan saksi dan mendalami jaringan narkoba yang menjadi target operasi.
Selain itu, aparat juga masih mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat dalam perlawanan terhadap petugas saat penggerebekan berlangsung. Hasil pemeriksaan forensik dan sejumlah barang bukti juga menjadi bagian penting dalam proses penyidikan.
Sampai informasi resmi terakhir, belum ada pengumuman tersangka baru terkait kematian tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan tersebut. Penyidik masih mendalami kronologi kejadian secara utuh, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam insiden tersebut.
Tragedi di Katingan menjadi perhatian nasional karena memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi aparat dalam memberantas peredaran narkoba. Terlebih, operasi dilakukan di wilayah terpencil yang memiliki medan sulit dan tantangan operasional cukup tinggi.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa peredaran narkoba tidak hanya merusak masyarakat, tetapi juga dapat menimbulkan ancaman serius bagi aparat penegak hukum yang berada di garis depan pemberantasan narkotika.
Di tengah upaya pemerintah dan kepolisian memerangi peredaran narkoba, gugurnya tiga anggota Polres Katingan tersebut menjadi simbol pengorbanan aparat yang mempertaruhkan nyawa demi menjalankan tugas negara.
(Ibnu Agusmar)
