Sibolga media Harian Indonesian com.
Dugaan aksi teror berupa pelemparan batu oleh orang tak dikenal (OTK) di kawasan Water Treatment Plant (WTP) Sarudik pada Rabu (01/07/2026) memicu kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat. Insiden yang terjadi di tengah upaya pemulihan distribusi air bersih pascabencana itu dinilai bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan ancaman serius terhadap pelayanan publik yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Ketua Kesatuan Mahasiswa Sibolga dan Tapanuli Tengah (Kamista), Tobi Bagustian Tanjung, menegaskan bahwa siapa pun yang mencoba mengganggu operasional Perumda Tirta Nauli Sibolga harus bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan kepada ribuan pelanggan yang bergantung pada layanan air bersih.
Menurutnya, tindakan yang diduga dilakukan oleh pihak-pihak tertentu tersebut berpotensi menghambat proses normalisasi distribusi air dan dapat memperburuk kondisi masyarakat yang masih berjuang mendapatkan akses air bersih secara maksimal.
“Kami mengutuk keras dugaan aksi teror di WTP Sarudik. Jangan ada pihak yang menjadikan pelayanan air bersih sebagai alat tekanan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Air bersih adalah hak masyarakat, bukan komoditas yang bisa disandera oleh konflik atau kepentingan segelintir orang,” tegas Tobi.
Ia menilai, di tengah situasi yang membutuhkan solidaritas seluruh pihak, justru muncul tindakan yang berpotensi mengganggu objek vital pelayanan publik. Kondisi tersebut, kata dia, tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Tobi juga memberikan apresiasi kepada jajaran Perumda Tirta Nauli Sibolga yang hingga saat ini tetap berupaya memulihkan dan menjaga distribusi air bersih dari wilayah Sarudik hingga Kota Sibolga meskipun menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
“Petugas di lapangan bekerja siang dan malam memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan. Karena itu, segala bentuk intimidasi, teror, maupun gangguan terhadap fasilitas pelayanan publik harus dihentikan dan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kamista mendesak aparat penegak hukum untuk bergerak cepat mengungkap pelaku dan motif di balik dugaan pelemparan batu tersebut. Menurutnya, publik berhak mengetahui apakah aksi tersebut merupakan tindakan spontan oknum tertentu atau terdapat aktor lain yang sengaja ingin menghambat operasional pelayanan air bersih.
“Jangan sampai kasus ini berhenti aparat harus mengusut tuntas siapa pelakunya, apa motifnya, dan apakah ada pihak yang menggerakkan. Jika dibiarkan, kejadian ini bisa menjadi preseden buruk bagi keamanan fasilitas pelayanan publik di Sibolga dan Tapanuli Tengah,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Nauli Sibolga, Khairunnas Panggabean, membenarkan adanya dugaan aksi pelemparan batu di kawasan WTP Sarudik. Pihaknya telah menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada aparat penegak hukum dan memastikan akan menempuh jalur hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Khairunnas menegaskan bahwa meskipun terjadi insiden tersebut, Perumda Tirta Nauli tidak akan mundur dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
“Kami tetap fokus memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Apa pun tantangan yang dihadapi di lapangan, kebutuhan masyarakat akan air bersih tetap menjadi prioritas utama kami,” tegasnya.
Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keamanan fasilitas vital milik daerah yang berfungsi melayani kebutuhan dasar masyarakat. Publik kini menunggu langkah cepat aparat penegak hukum untuk mengungkap pelaku dan memastikan tidak ada lagi upaya-upaya yang dapat mengganggu pelayanan air bersih.(M.T)
