Harianindonesia.com – Istilah gap year digunakan untuk para siswa yang mengambil jeda usai lulus SMA untuk tak langsung melanjutkan kuliah pada tahun yang sama. Gap year biasanya diputuskan karena alasan belum diterima kuliah, ingin bekerja terlebih dahulu, atau mengambil istirahat untuk keperluan lain.
Survei global menunjukkan sebanyak 16 persen siswa SMA memutuskan untuk mengambil jeda kuliah selama satu tahun. Namun, saat pandemi COVID-19 datang, para siswa mengalami permasalahan yang cukup rumit untuk mengambil gap year atau tidak.
Wakil Presiden Bidang Akademik di Fontbonne University, Dr Adam Weyhaupt, dan Konselor Perguruan Tinggi dan Karier di Affton High School Mary Giunta, menjelaskan keuntungan dan risiko yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk gap year.
“Masa depan sebagian besar tidak dapat diprediksi,” kata Giunta, yang dikutip dari fontbone.edu.
Menurut Guinta, beberapa mahasiswa memutuskan untuk mengambil jeda karena tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
Lantas, apa saja keuntungan dan kerugian yang diperoleh siswa dari gap year?
Giunta menyebut, beberapa siswa menganggap tahun jeda sebagai kesempatan untuk menggali pengalaman dan mempelajari keterampilan baru di luar sekolah. Periode ini sekaligus memberi kesempatan siswa untuk memikirkan matang-matang, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
“Tahun jeda bisa menjadi waktu yang tepat tidak hanya untuk menemukan jati diri dan mencoba hal baru, tetapi juga untuk mempersiapkan diri kuliah,” ujarnya.
Jika siswa menghabiskan waktu jeda dengan kegiatan positif seperti sukarelawan, bekerja, atau magang, maka akan berdampak baik bagi masa depan. Mengambil gap year dengan tujuan mengetahui minat dan bakat, juga akan membuka peluang karier yang lebih baik.
Mahasiswa yang menganut paham alur setelah lulus kuliah akan lanjut bekerja, mungkin tidak berkesempatan mempelajari hal baru. Maka dari itu, kesempatan gap year banyak dijadikan kesempatan untuk melakukan hal yang mungkin tidak dapat dilakukan di kemudian hari.
Gap Year Bisa Menunda Karier
Dalam pandangan lain, keputusan untuk gap year sama saja dengan menunda diri untuk mengejar karier setelah lulus kuliah. Waktu memulai yang tertunda selama satu tahun akan membuat siswa mungkin merasa tertinggal terkait dengan penghasilan.
“Salah satu kerugian terbesar adalah hilangnya potensi penghasilan, menunda kenaikan gaji selama satu tahun saja setelah memiliki gelar sarjana akan berdampak kumulatif sepanjang hidup anda,” ujar Weyhaupt.
Selain itu, siswa yang memutuskan untuk cuti sebelum kuliah akan kehilangan momentum akademis. Kebiasaan belajar yang sudah tertanam selama bertahun- tahun mungkin akan menurun jika tidak dilakukan selama satu tahun.
Lalu, apakah ada alternatif yang dapat dilakukan siswa jika bingung mempertimbangkan keduanya?
Mahasiswa dapat mengambil beberapa mata kuliah saja jika memang merasa belum siap menghadapi masa ini. Keputusan ini cenderung lebih fleksibel, di samping mendapat pelajaran akademik, mahasiswa memiliki waktu luang untuk merenungkan bagaimana langkahnya ke depan.
Weyhaput menyarankan para siswa untuk melakukan riset terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan mengambil jeda. Ia menyarankan untuk tidak menganggap jeda sebagai libur panjang.
“Pahami pro dan kontra mengambil cuti setahun, dan jangan berasumsi semuanya akan sama seperti liburan (musim semi),” tuturnya. (*)
