media Harian Indonesian.com Salapian Langkat 21/06/2026
Aksi menanam pohon pisang di tengah jalan merupakan bentuk protes spontan yang sering dilakukan oleh warga sebagai puncak kekesalan terhadap kondisi jalan yang rusak parah dan tak kunjung diperbaiki.
Jalan lintas Binjai Salapian cukup mengesankan bagi yang melintas.
Bagi warga Kelurahan Tanjung Langkat, aksi ini biasanya membawa beberapa pesan utama:
Sindiran dan Kritik Sosial
Menanam pohon pisang di jalan berlubang adalah cara satir untuk mengatakan bahwa jalan raya tersebut sudah beralih fungsi. Karena kondisinya yang hancur, berlumpur, dan penuh lubang dalam, warga menyindir pemerintah setempat bahwa jalan tersebut lebih cocok menjadi lahan pertanian atau perkebunan daripada jalur transportasi.
Penanda Bahaya (Rambu Darurat)
Selain sebagai protes, pohon pisang tersebut berfungsi sebagai rambu lalu lintas darurat. Lubang yang digenangi air sering kali tidak terlihat oleh pengendara, terutama saat malam hari atau hujan deras. Pohon pisang ini menjadi tanda visual yang jelas agar pengguna jalan memperlambat laju kendaraan dan menghindari kecelakaan fatal.
Menarik Perhatian Pemerintah dan Media
Aksi seperti ini dinilai sangat efektif untuk menarik perhatian publik, media massa, dan pembuat kebijakan. Warga berharap dengan viralnya aksi menanam pohon pisang tersebut, dinas terkait atau pemerintah daerah segera turun tangan untuk melakukan perbaikan nyata, bukan sekadar janji.
Dampak Aksi: Meskipun aksi ini lahir dari rasa frustrasi yang valid, keberadaan pohon di tengah jalan tentu dapat mengganggu kelancaran lalu lintas. Namun, bagi warga, ini sering kali menjadi satu-satunya cara agar suara dan keluhan mereka didengar setelah jalur birokrasi biasa tidak membuahkan hasil.
Masyarakat merasa bosan dengan janji janji terus namun tidak terealisasi juga untuk perbaikan jalan tersebut.
Pemerintah propinsi Sumatra Utara mohon segera mengambil tindakan sebelum menelan korban bagi pengendara yang melintas.
(Hambali)
editor Agusmar
