Media Harian Indonesian com BUAY PEMACA, OKU SELATAN Tgl 15/06/2026
Gajah liar kembali berulah. Kali ini Desa Tanjung Baru, Kecamatan Buay Pemaca jadi sasaran empuk. Kawanan gajah merusak kebun dan lahan warga dalam beberapa hari terakhir. Petani resah, panen terancam gagal total, tapi perlindungan dari negara tak kunjung datang. 15/06/2026
Aksi perusakan terjadi berulang dan makin brutal. Tanaman sawit, karet, dan tanaman pangan yang sudah susah payah dirawat petani ludes dalam semalam. Pohon tumbang, buah berserakan, pagar jebol. Bagi warga, gajah bukan cuma hama. Ini soal perut keluarga yang terancam kelaparan.
“Petani hawatir dan terancam. Kami kerja siang malam banting tulang, tapi habis dirusak gajah. Mau ngadu ke siapa? Lapor sana-sini jawabannya cuma ‘akan kami tindak lanjuti’. Kapan tindak lanjutnya?” keluh salah satu warga Desa Tj. Baru dengan nada kecewa.
Ini bukan kejadian pertama di Buay Pemaca dan Buana pemaca Setiap musim, cerita yang sama terulang seperti lingkaran setan: gajah masuk hutan bergeser, kebun hancur, petani rugi puluhan juta. Sementara pemerintah daerah dan instansi terkait terkesan lambat merespons.
SOP ada, rapat koordinasi ada, wacana pembentukan tim pengusiran ada. Tapi solusi nyata di lapangan nihil. Petani dibiarkan berjaga malam dengan obor, kentongan, dan mercon seadanya. Taruhannya nyawa. Padahal konflik manusia-gajah ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan pernah menelan korban jiwa.
Kalau nunggu korban baru bergerak, itu bukan melindungi rakyat. Itu namanya lalai,” sindir warga lainnya.
Sampai kapan petani Tj. Baru Kecamatan Buay Pemaca OKU Selatan harus hidup dalam ketakutan
Sampai kapan negara absen saat warganya terancam kehilangan satu-satunya mata pencaharian
Hutan yang makin menyempit akibat alih fungsi lahan membuat gajah kehilangan habitat. Tapi yang menanggung akibatnya justru petani kecil yang tidak pernah menikmati keuntungan dari deforestasi itu. Ironis.
Pemerintah OKU Selatan dan Balai KSDA Sumsel harus segera turun tangan. Bukan cuma datang untuk survei lalu pulang. Bukan cuma bagi-bagi imbauan lewat spanduk. Warga butuh tindakan konkret: pagar penghalang listrik, tim respon cepat yang siaga 24 jam, dan skema ganti rugi yang adil dan tidak berbelit.
Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin petani akan bertindak sendiri dengan cara-cara berbahaya. Saat itu terjadi, siapa yang mau disalahkan? Petani yang mempertahankan hidupnya, atau negara yang gagal hadir
Konflik ini adalah ujian nyata kehadiran negara. Jangan sampai Tj. Baru menjadi bukti bahwa rakyat kecil hanya diingat saat butuh suara, lalu ditinggalkan saat butuh perlindungan.
Romy Batara 94
