Harianindonesia.com – Psikolog Cakra Medika Ayu S. Sadewo, S.Psi., mengatakan remaja sering mengikuti tren karena kebutuhan diterima teman sebaya dan rasa takut ketinggalan, atau fear of missing out (FOMO).
“Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung,” ujar Ayu seperti dikutip Antara, Jumat (30/1/2026).
Selain kebutuhan akan penerimaan, rasa ingin tahu mendorong remaja mencoba hal-hal baru. Tren yang ramai dibicarakan sering dianggap bagian dari proses memahami diri sendiri dan menentukan pilihan.
“Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka, dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’,” tambah psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
Fenomena ini terlihat pada tren gas tertawa atau whip pink yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Gas tertawa adalah nitrous oxide (NO2), zat yang biasanya digunakan secara medis sebagai anestesi, tetapi disalahgunakan secara rekreasional karena menimbulkan efek euforia sesaat.
Sementara whip pink adalah salah satu merek tabung nitrous oxide yang sering muncul dalam perbincangan tersebut.
Kepopuleran tren ini mencuat setelah kematian pemengaruh sekaligus kreator konten Lula Lahfah dikaitkan oleh warganet dengan penggunaan gas tersebut, meski hingga kini penyebab kematian belum dipastikan pihak berwenang.
Ayu menekankan, banyak remaja sebenarnya tidak sepenuhnya memahami dampak tren yang diikuti. Fokus mereka lebih pada validasi sosial, merasa diakui, dan diyakini mampu mengambil keputusan sendiri seperti teman-temannya.
Fenomena whip pink menjadi peringatan tentang bagaimana tren di media sosial dapat memengaruhi perilaku remaja, sekaligus menekankan pentingnya pemahaman risiko sebelum mengikuti sesuatu yang populer.
Penyalahgunaan nitrous oxide (N2O) atau gas tertawa untuk tujuan rekreasi bukanlah fenomena baru, namun penyebarannya yang masif melalui media sosial telah menciptakan urgensi baru bagi kesehatan publik.
Secara medis, gas ini merupakan anestesi yang aman jika digunakan dalam pengawasan profesional dengan campuran oksigen yang tepat. Namun, jika dihirup secara bebas untuk mendapatkan efek melayang (high) atau euforia sesaat, zat ini dapat menyebabkan kekurangan oksigen atau hipoksia.
Dampak jangka panjang dari penggunaan berulang mencakup kerusakan saraf permanen karena gangguan pada penyerapan vitamin B12, depresi sumsum tulang belakang, hingga risiko henti jantung yang dapat berakibat fatal. Maraknya tren ini di kalangan remaja sering kali diperparah oleh kemudahan akses terhadap produk whipped cream charger yaitu tabung gas untuk pengocok krim yang mengandung zat serupa di pasar daring.
Tanpa pemahaman risiko yang memadai, dorongan psikologis untuk mendapatkan validasi sosial melalui tren populer dapat berubah menjadi ancaman kesehatan yang serius bagi generasi muda.(*)
