Harianindonesia.com – Kasus penyakit akibat virus Nipah sedang terjadi di India. Indonesia harus mewaspadai penyakit menular ini dan memperketat pengawasan. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius sehingga memicu kematian.
Kasus virus nipah bermula dari dua orang perawat di kota Barasat, negara bagian West Bengal India. Satu perawat pria sudah membaik, tetapi satu wanita masih dalam kondisi kritis di ICCU. Dari dua orang kasus awal itu, penyakit lalu menyebar ke sedikitnya tiga orang lagi.
“Jadi jelas, ini sudah terladi penularan antar manusia. Sekarang ada sekitar 100 orang kontak erat dari kasus-kasus itu yang kini dalam karantina dan pengawasan ketat,” ujar mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan tertulis, Selasa (27/1/2026).
Prof Tjandra menegaskan, virus Nipah memang sangat patogenik. Virus ini merupakan virus RNA dari family Paramyxoviridae. Bersifat uzoonotik, menular awalnya dari binatang (seperti kelelawar, babi, dll.) ke manusia dari makanan yang terkontaminasi, walaupun akhirnya dapat menular antar manusia seperti di India sekarang ini.
Sejauh ini di dunia sudah ada sekitar 750 kasus sejak 1998-1999 yang bermula dari Malaysia. Hingga kini, letusan kasus sudah pernah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Karena itu, tegas Prof Tjandra, Indonesia perlu waspada pada virus ini.
Prof Tjandra mengatakan, setidaknya ada lima hal yang membuat Indonesia harus waspada. Pertama, pada tahun 2018, WHO memasukkan penyakit akibat virus Nipah ini sebagai prioritas penelitian dan pengembangan ‘WHO R&D Blueprint’.
“Jadi penyakit ini memang diamati bahkan sampai tingkat WHO,” ungkap Prof Tjandra.
Ke dua, di India nampaknya terjadi penularan antar manusia, sesuatu yang tentu patut jadi perhatian penting dalam pengendalian penyakit menular dunia.
Ke tiga, banyak negara sudah melakukan kewaspadaan khusus. Thailad sudah melakukan skrining di bandara Suvarnabhumi dan juga Don Mueang, khususnya untuk pendatang dari negara bagian West Bengal, dan memberlakukan kartu kewaspadaan kesehatan ‘Health Beware Card’.
Nepal juga melakukan skrining di bandara internasionalnya, Tribhuvan International Airport. Taiwan pada 16 Januari 2026 memasukkan penyakit akibat virus Nipah dalam kategori 5, artinya penyakit jarang yang kini muncul (‘emerging’), dapat menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang besar, memerlukan deteksi, dan pelaporan segera serta kegiatan penangananan yang khusus. Selain itu juga memberlakukan peringatan Level 2 ‘kuning’ bagi warganya yang punya rencana bepergian ke daerah Kerala.
Ke empat, cukup banyaknya kunjungan warga India ke Indonesia. “Karena itu, nampaknya perlu pengamatan khusus, setidaknya untuk mereka yang datang dari daerah Kalkuta dan West Bengal,” ujar Prof Tjandra yang menjabat Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Ke lima, Indonesia baiknya juga waspada dan mengikuti secara ketat perkembangan penularan yang ada, baik di India maupun di berbagai negara tetangga. Koordinasi dengan WHO Asia Tenggara (SEARO) dan juga Pasifik Barat (WPRO) tentu perlu ditingkatkan, juga pengaktifan kegiatan ‘ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases), apalagi Indonesia memegang peran deteksi dan asesmen risiko (Detection and Risk Assesment) di ACPHEED ini.
Gejala dan Komplikasi Serius
Prof Tjandra mengungkapkan, virus nipah memiliki masa inkubasi berkisar antara 4 sampai 21 hari, walaupun ada yang lebih lama. Gejala sering bermula dari keluhan seperti flu (“flu-like illness”) dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan lemah.
Dua masalah utama atau komplikasi yang dapat terjadi kemudian adalah gangguan paru dan juga gangguan di otak. Untuk di paru maka dapat bermula dari keluhan batuk, sesak napas, lalu terjadi pneumonia yang kalau tidak tertangani dapat timbul gagal napas.
Untuk gangguan otak dapat berupa ensefalitis, yang pada sebagian kasus terjadi meningitis. Pada ensefalitis maka pasien dapat menunjukkan berbagai gejala neurologis seperti kebingungan, gangguan kesadaran, kejang dan bahkan koma, yang kalau sudah berat maka angka kematiannya dapat sampai 40% – 75%.
“Dapat disampaikan di sini bahwa tidak ada vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah ini, dan tidak ada juga obat spesifiknya,” ujar Prof Tjandra. (*)
