Tapteng .Rabu 02/09/26 Harian Indonesian com
Meski banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah telah berlalu, penderitaan warga Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, belum juga berakhir. Rumah yang rusak, sawah yang hancur, serta hilangnya sumber mata pencaharian membuat masyarakat masih berjuang bertahan hidup di tengah ketidakpastian bantuan yang mereka nantikan.
Harapan baru muncul ketika Ketua DPRD Tapanuli Tengah mengusulkan bantuan sebesar Rp30 juta per kepala keluarga (KK) bagi korban bencana. Namun hingga kini, warga masih menunggu realisasi usulan tersebut dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.
Siti Addi, salah seorang warga terdampak Rabu 02/09/2026 mengaku bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk membangun kembali rumah yang rusak akibat bencana. Menurutnya, masyarakat tidak meminta kemewahan, melainkan sekadar tempat tinggal yang layak dan aman untuk keluarga mereka.
“Kami berharap usulan bantuan Rp30 juta per KK itu benar-benar direalisasikan. Kami hanya ingin membangun rumah kembali meskipun sederhana, agar bisa tinggal dengan tenang bersama keluarga,” ujar Siti dengan mata berkaca-kaca.
Bencana yang melanda Hutana Bolon tidak hanya merusak rumah warga. Persawahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat juga terdampak parah.Ssejumlah lahan pertanian rusak, sementara hasil panen yang sudah siap dipetik dilaporkan hanyut terbawa arus banjir.
“Saat panen, kami tidak mendapatkan apa-apa. Hasil panen hanyut semua. Kalau tidak ada bantuan dari pihak lain, mungkin kami kesulitan untuk makan,” tutur Siti.
Kehilangan hasil panen membuat banyak warga kehilangan sumber pendapatan. Sebagian terpaksa mencari pekerjaan serabutan dan menjadi buruh harian untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Keluhan serupa disampaikan Efriwati Panggabean. Ia menyoroti proses pendataan korban yang telah berulang kali dilakukan oleh berbagai pihak. Rumah warga telah didokumentasikan, difoto, bahkan ditinjau langsung oleh petugas. Namun hingga kini, masyarakat mengaku belum melihat kepastian bantuan yang dijanjikan.
“Kami sudah berkali-kali didata. Rumah kami difoto dan didatangi. Yang kami butuhkan sekarang bukan lagi pendataan, tetapi kepastian bantuan agar kami bisa bangkit,” tegas Efriwati.
Warga juga mempertanyakan hasil verifikasi kerusakan rumah. Beberapa bangunan yang menurut mereka mengalami kerusakan berat justru tercatat sebagai rusak ringan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi besaran bantuan yang diterima korban.
Bagi masyarakat Hutana Bolon, bantuan Rp30 juta per KK bukan sekadar angka. Bantuan tersebut dianggap sebagai harapan untuk memulai kembali kehidupan yang porak-poranda akibat bencana. Setelah kehilangan rumah, sawah, hasil panen, dan mata pencaharian, warga berharap pemerintah hadir melalui kebijakan yang nyata dan berpihak kepada korban.
Hingga awal September 2026, warga masih menunggu langkah konkret Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah untuk menindaklanjuti usulan bantuan tersebut. Bagi masyarakat Hutanabolon, air banjir memang telah surut, tetapi luka dan penderitaan akibat bencana masih mereka rasakan setiap hari.
Kini mereka hanya meminta satu hal: kesempatan untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan yang hilang akibat bencana.
jurnalis. MT
editor. Ibnu Agusmar
